Rabu, 17 Juni 2015

"Imam" Tetap Sah Sholat Dibelakang Makmum



Seorang ustaz sedang berkumpul ditengah-tengah keluarganya dan membahas berbagai masalah salah satunya kapasitas para imam sholat yang dipilih sang ustaz dimusholla yang baru dipimpinnya.

Informasi dari keluarga kepada sang ustadz, banyak tanggapan dari masyarakat mengenai imam pilihannya mulai dari yang memprotes bacaan imam hingga ada pula yang sangat menyukai bacaan imam.

Imam si anu bacaannya bagus kata tetangga kalau lagi baca ain fasehnya bukan main sampai melengking suaranya, ternyata tetangga yang memuji itu salah satu kerabat imam tersebut.

Tetangga lain bilang imam sipulan baca fatehahnya manteb, langgamnya unik ada cengkoknya gitu, “hadueh kaya dangdut aja” kata sang ustadz.

Ada juga tetangga yang protes keras, sholat kalau sianu yang jadi imam bisa engga sah bacaannya kurang faseh. Kalo perlu kata tetangga itu, musholla panggil guru ngaji buat benerin imam yang bacaannya belum faseh.

Entah pusing atau apa dengar beragam tanggapan dari masyarakat terhadap imam pilihannya, sang ustaz akhirnya bersuara. “Sebenarnya imam dibelakang makmum pun tetap sah sholatnya”.

Denger pernyataan sang ustadz yang aneh keluarganya bingung, bahkan berpikir nih ustadz baru mimpin musholla aja udah stress apalagi masjid.

Akhirnya ada yang tanya kok bisa begitu? Iya itu si imam tetangga kita sholatnya dibelakang melulu, engga pernah mau jadi imam.

Selasa, 16 Juni 2015

Dajjal Dalam Bingkai Modern



Dajjal banyak dikisahkan sebagai mahluk jahat yang muncul menjelang hari kiamat dengan membawa ujian atau fitnah terbesar yang akan mempengaruhi keimanan seseorang agar ikut masuk kedalam neraka.

Pada akhir zaman dajjal disebut-sebut akan mengakui diri sebagai Tuhan, karena mampu melakukan apapun layaknya Tuhan, seperti membuat surga palsu maupun memenuhi apapun yang diinginkan seseorang. Sejak munculnya dajjal menurut sejumlah riwayat, tidak akan lagi diterima iman mereka yang telah terpengaruh oleh tipu daya mahluk keji tersebut.

Para ulama masa lampau mungkin tidak membayangkan ilmu pengetahuan manusia berkembang begitu pesat, sehingga mungkin saja dajjal menurut pemahaman mereka sebatas mahluk yang memiliki kepandaian luar biasa. Karena kabarnya, sangat sedikit ayat quran maupun hadis yang mengungkap mengenai dajjal, sehingga muncul interpretasi berbeda-beda antara satu pendapat dengan pendapat lain.

Tidak perlu jauh-jauh kita membayangkan bagaimana perkembanan iptek dimasa mendatang, pencapaian iptek saat ini saja membuat sejumlah ilmuan terutama dari barat menjadi enggan mengakui eksistensi tuhan salah satunya Steven Hawking.

Banyak teknologi yang sekarang sedang dikembangkan akan mampu membuat tugas manusia semakin mudah atau bahkan tidak perlu lagi melakukan apapun. Antara lain, kecerdasan buatan yang nantinya akan membuat seseorang tidak perlu lagi berfikir keras, komputerlah yang akan menggantikan otak kita untuk berfikir atau robot yang akan melakukan segala-galanya untuk manusia mulai dari yang remeh temeh seperti membuat kopi maupun berperang menggantikan tentara.

Bukan mustahil kemajuan iptek nantinya mampu mewujudkan apapun keinginan manusia, bahkan mungkin membuat surganya sendiri seperti yang tertulis dalam kitab-kitab suci. Apa akibatnya, mereka akan melupakan eksisten Tuhan sang Maha Pencipta dan misi dajjal sukses membuat manusia ingkar kepada Tuhan.

Kita tidak perlu bersusah payah bersiap menunggu datangnya mahluk yang bernama dajjal, karena perangkat yang dapat membuat seseorang terperangkap oleh tipu daya dajjal sebenarnya sudah ada disekitar kita, atau bahkan ada dalam genggaman, seperti komputer, smartphone maupun perangkat lain yang semakin memudahkan kehidupan manusia.

Tentu saja Tuhan sangat sayang kepada umat manusia, tidak akan mungkin Tuhan menjerumuskan mahluk-mahluk ciptaannya masuk kedalam siksa neraka. Manusialah yang menciptakan dajjal itu sendiri kemudian lupa apa yang telah mereka ciptakan menjerumuskannya dalam kesesatan.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـكِن لاَّ يَشْعُرُونَ
Dan bila dikatakan kepada mereka, “janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab, “sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan tapi mereka tidak sadar. (QS al-Baqarah: 11-12)

Senin, 15 Juni 2015

Toleransi Atau Sekedar Tau Diri

Akhir-akhir ini ramai status maupun komentar dimedia sosial baik yang mendukung dan mengecam pernyataan wakil presiden Jusuf Kalla dan menteri agama Lukman Hakim Syaifuddin mengenai toleransi.

Pak JK menghimbau agar tidak lagi menggunakan rekaman ngaji di masjid-masjid apalagi bila rekaman tersebut disetel pada pagi buta sebelum sholat subuh dengan suara speaker maksimum dan bersahut-sahutan antara masjid dan musholla terdekat. Menurut pak JK ini bukan bukan hanya menimbulkan polusi suara tapi tidak menghasilkan pahala kecuali buat mereka yang berhasil menciptakan alat rekam tersebut.

Sama halnya dengan menag, dirinya menghimbau agar pada bulan ramadhan tidak memaksa warung makan tutup disiang hari. Alasan menag, mereka yang tidak berpuasa juga harus dihormati sehingga tidak kesulitan untuk mencari tempat untuk makan siang selama bulan ramadhan.

Tentu saja ini menjadi bahan pergunjingan yang ramai baik dimedia sosial maupun warung kopi baik yang pro maupun kontra.

Mereka yang kontra menyebut pak JK dan menag telah menyakiti umat islam dengan berbagai alasan, salah satunya memberi contoh masyarakat bali ketika melakukan nyepi umat islam turut serta tidak melakukan aktifitas apapun ketika berlangsung hari besar agama hindu.

Mungkin sebaliknya kita kembali mengingat kisah seorang yahudi yang mengadukan nasibnya kepada khalifah umar bin khattab karena rumah miliknya dirobohkan oleh gubernur amr bin ash, untuk mendirikan masjid. Rumah Alloh yang nantinya digunakan untuk ibadah umat Islam tersebut kemudian langsung diperintahkan gubernur untuk dirobohkan kembali demi menghormati hak seorang tua renta keturunan Yahudi.

Kisah yang lebih mengharukan lagi ialah begitu tolerannya seorang Rasulullah yang jelas-jelas ketika itu merupakan seorang pemimpin umat islam sekaligus pemimpin negara, kepada seorang nenek yang tiap rasul lewat rumahnya  selalu mencaci bahkan meludahi beliau. Apa yang kemudian beliau lakukan ketika suatu hari tidak ditemuinya nenek tersebut, ternyata rasul kemudian mengunjunginya karena tahu si nenek sedang sakit.

Sudah saatnya sebagai mayoritas kita beranjak dari toleransi yang sangat biasa menuju toleransi  luar biasa seperti dicontohkan oleh rasul dan para sahabat. Toleransi yang bukan hanya sekedar saling tahu diri karena sedang melakukan suatu prosesi, melainkan toleransi yang menghormati hak orang lain sekecil apapun.

Hak mereka yang tidak ingin terganggu tidurnya setelah lelah bekerja seharian dan hak mereka yang ingin menikmati makan siang dengan nyaman diwarung-warung makan, meski sedang berlangsung ibadah puasa ramadhan.